Rumah

Rumah; adalah ketika tempat itu membuatmu tenang, orang-orang di dalamnya membuatnya nyaman.

Kali ini saya mau membhasa rumah kedua dan ketiga saya--tempat di mana saya pertama kali merajut mimpi jadi penulis.


Rumah keduaku adalah salah satu situs menulis.


Rumah ketigaku adalah salah satu grup penulis di facebook.


Di rumah asli saya, saya sering merasa sepi--tapi justru ini yang saya suka; nyaman, tentram, dan tenang. Mengingat para penghuninya pulang minimal jam empat sore--terkecuali untuk aku dan adikku, kami sempat punya waktu jeda sekitar satu sampai dua jam di rumah. Makanya saya sempat merasakan tenangnya rumah asli.


Kembali ke rumah kedua dan ketiga.


Refleksi ketenangan itu adalah di dua tempat dunia maya yang saya sebutkan. Di sana, saya berubah menjadi sosok ceplas-ceplos, adik yang usil bagi kakak-kakak virtual-nya, anak yang bandel bagi ayah-ibu virtual-nya, junior yang enerjik, senior yang wibawanya digantikan sifat-sifat aneh.


Tapi, beberapa bulan ini saya menghilang. Frekuensi bermain internet berkurang drastis. Kesibukan di dunia nyata begitu menggencet.


Kemarin, saya kembali ke dua tempat yang sudah seperti rumah kedua dan rumah ketiga saya.


Ketika saya kembali, semua terasa asing. Semakin banyak penghuninya--bahkan sebagian besar tak kukenal. Apakah aku sudah terlalu lama pergi?

Tapi satu yang kini sama dari kedua tempat ini; keadaannya sedang 'panas'--dan aku merasa asing. Mungkin sekarang perlahan-lahan stabil, tapi kini aku bukan sosok anak kecil yang enerjik, atau adik cerewet seperti dulu. Aku kembali seperti roh--ada namun tak tampak.

Aku tahu tentang masalah di kedua tempat ini--sungguh, bahkan kisah detailnya.

Tapi aku tak ada di pihak pro ataupun pihak kontra. Aku diam.

Aku saksi dari semua. 

Ketika di tempat yang membuatnya nyaman kini membuatmu merasa asing, terasa melelahkan.
 

Sepi

Pergi
Menyendiri
Biar hening ini kurenggut kembali

Kuala Kapuas, 14102012

Isyarat

Isyaratmu terlalu jelas, bahkan mataku menangkapnya sama seperti saat aku membaca buku dengan ukuran tulisan yang besar.

Bisikanmu terlalu keras, bahkan telingaku mendengarnya sama seperti saat aku mendengar musik dengan volume terkencang.

Meski aku tahu, kodemu itu bukan ditujukan kepadaku, tapi untuk memperbincangkan keburukan orang lain.

Jangan ragukan instingku. Tak pernahkah kau tahu, aku sering mendengus sinis setiap kali berhasil menangkap semua kode tak bergunamu?

Bahkan kalau kau mau memutar kepalamu ke belakang, ada aku yang menyeringai--persis seperti senyum iblis yang berhasil mengelabui.

Kadang aku tak bertanya, mengertikah kamu bahwa kode itu untuk menyampaikan pesan rahasia?

Lalu, sudahkah kamu bercermin pada kesalahanmu sendiri?

Lebih baik kau bercermin, lalu utarakanlah semua yang kau tak suka. Jangan menjadi manis di depan, busuk di belakang. Munafik.

Menjijikan.

Kuala Kapuas, 27092012

Frase Rasa

Aku tergugu
pada sudut hati yang kian membeku

Kuala Kapuas, 19092012

LOMBA MENULIS CERITA


Helo, blogger! Bagi yang suka menulis, ada info lomba menulis nih. Hadiahnya jutaan, lho. Silahkan cek di foto. Kalau kurang jelas, silahkan baca infonya di bawah ini.

Ungkapkan kepedulian kamu terhadap Anak-Anak Berkebutuhan Khusus dengan mengikuti LOMBA MENULIS CERITA atau ESAI "WHAT WILL I BE"?
Bagi siswa-siswi, mahasiswa, guru, orangtua, pemerhati, dan masyarakat yang kreatif dan suka mengarang, yuk ikutan lomba karya tulis yang diadakan College of Allied Educators (CAE) Indonesia. Setiap karya yang dikirimkan akan disumbangkan untuk mendukung gerakan peduli pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.

PERSYARATAN

1. Lomba ini terbuka untuk umum.
2. Tidak ada batasan usia.
3. Tidak dipungut biaya.
4. Karya dikirimkan dalam bentuk artikel (hardcopy) dengan mencantumkan nama, alamat lengkap dan nomor telepon yang bisa dihubingi di bagian belakang lembar tulisan/ atau lembar berbeda.
5. Karya dimasukan ke dalam amplop dan dikirim ke alamat:
College of Allied Educators Indonesia:
Gedung Menara Kuningan Unit F2
Jl. H.R. Rasuna Said, Block X-7 Kav-5
Jakarta 12940
6. Karya paling lambat diterima panitia tanggal 12 Mei 2012 (cap pos).

KETENTUAN

1. Lomba bersifat perorangan.
2. Karya berupa karangan cerita dengan topik-topik antara lain:
- Mempersiapkan masa depan anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
- Hal terkait pengembangan potensi Anak Berkebutuhan Khusus.
- Seputar Kepedulian terhadap Anak Berkebutuhan Khusus
- Pentingnya peran orangtua dalam menyiapkan masa depan anak berkebutuhan khusus
- Peran guru dalam membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus
- Pendidikan inklusif di Indonesia
3. Panjang tulisan 1000 - 1200 kata. Diketik di kertas A4, jenis Times New Roman, ukuran 12, spasi 1,5.
4. Karya belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis dan atau belum pernah dipublikasikan di berbagai media, cetak maupun online (blog, wesite, dsb).
5. Karya yang telah diterima panitia menjadi hak milik panitia penyelenggara.
6. Panitia berhak mempublikasikan karya pemenang di media massa dan dalam materi promosi College of Allied Educators Indonesia.
7. Pemenang akan menerima surat resmi dari panitia lomba dan diumumkan pada tanggal 31 Mei 2012 melalui www.cae-indonesia.com atau www.hopeindonesia.org
8. Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
9. HADIAH bagi pemenang:
- Juara 1 uang tunai Rp.5.000.000 dan plakat
- Juara 2 uang tunai Rp.3.000.000 dan plakat
- Juara 3 uang tunai Rp.2.000.000 dan plakat

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi :
College of Allied Educators 
Telp. (021) 33006177,  (021) 30015796, 087881658545
E-mail: cae.indonesia@yahoo.com




Perasaanku pada Pendamping Ayahku ...

Aku mengenalnya, semenjak beberapa tahun yang lalu. Seringkali kulihat semenjak masa kanak-kanak, dia bersama ayahku...

Awalnya, aku tidak terlalu tertarik dan menganggapnya biasa. Bagai hal yang tidak penting dan pantas diabaikan.

Dia terlihat begitu manis dan menarik. Namun, saat itu, sebagai anak kecil yang tidak tahu-menahu tentangnya, aku hanya terdiam dan hanya mampu menebak-nebak bagaimana dirinya.

Waktu terus berjalan bagai roda yang berputar, membawaku hingga kini. Melalui proses pendewasaan yang semanis gula dan juga sepahit obat. Aku semakin sering melihatnya, tatkala bersama ayahku. Dahulu, saat diriku masih polos bagai kertas putih yang kosong, aku hanya mampu menebak-nebak dan membuat pikiranku menjadi kalut. Kini, umurku sudah tiga belas tahun, umur seorang remaja yang keingintahuannya semakin besar.

Dia ada di dalam imaji-imaji liarku, hadir dalam setiap langkah hidupku, dan tak sedikit pun memberikan jeda pada pikiranku. Semakin aku menghindar memikirkannya, semakin aku malah mengingatnya. Mengapa aku seperti ini, Tuhan?

Suatu hari--tepatnya dua tahun yang lalu, di kala matahari begitu gahar menyengat, aku pulang dari sekolah. Meletakan sepatu dan tas, serta tak lupa berganti pakaian seragam dengan pakaian sehari-hari; berupa kaos oblong dan celana pendek.

Ayahku belum pulang dari kantornya, sedang mencari nafkah untuk membiayai keluargaku.

Aku berjalan menuju dapur, dan aku melihat dirinya sendirian di sana. Aku menatapnya, semakin lekat dengan pandanganku yang begitu tajam. Aku berjalan mendekat, mendekat, dan semakin mendekat. Jarakku dengan dirinya, sudah tak terlampau jauh lagi. Aku terdiam dengan ekspresi datar, tanpa senyum, apalagi tangisan.

Kutarik napas dalam-dalam, dan kuhembuskan secara perlahan. Dadaku sesak, namun, aku tak mampu menangis. Dia merupakan sesuatu yang istimewa bagi ayahku. Yang kutahu semenjak kecil, Ayah selalu menyentuhnya. Berdua dengannya di teras seraya membaca koran. Berdua di saat pagi sebelum aku berangkat sekolah. Serta, berdua di saat-saat lainnya--yang sekarang berputar di dalam memori otakku. Entah mengapa, aku ataupun seluruh keluargaku, tak pernah merasa terganggu, apalagi sampai marah. bahkan, kala itu, wanita yang paling dicintai Ayahku--Ibu--tak sedikit pun menyimpan iri maupun dendam.

Satu kesimpulan yang kudapat: Ayahku sangat mencintainya ...

"Ck!" decakku. Entah kesal ataupun perasaan lainnya, diriku sendiri pun tak tahu. Masih dengan dadaku yang sesak dan hatiku yang ngilu, aku terus menatapnya yang terdiam membisu.

Tanganku gemetar. Kuambil sebuah cangkir. Bukan untuk melemparnya--dan akhirnya mencelakainya. Justru, gelas itu untuk menampungnya.

Lalu, cangkir itu kuisi dengan bubuk kopi, cokelat bubuk, dan gula pasir. Kutambahkan air panas, kuaduk hingga rata. Kukocok whipping cream, dan kusemprotkan di atas kopinya. Kucampur dengan gula palem dan cokelat bubuk. Tak lupa, taburkan gula palem lagi di atasnya sesuai selera.

Aku mencicipinya--

--dan kusadari semenjak itu, AKU SANGAT MENCINTAIMU, WAHAI ... CAPPUCINO DOUBLE SUGAR! PENDAMPING AYAHKU DI SAAT SANTAI! 

Menemukan Sebuah Kebahagian Melalui Perumpamaan

Hai all! Entri ini copy paste, sumber kurang tahu.

Mungkin ada yang tahu? Silahkan kasih tau sumbernya. =)

Btw, chek it out! Sebuah renungan dari dapur.


Pada suatu ketika, seorang anak menangis dan mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia sudah menyerah dan tidak tahu lagi bagaimana menghadapinya. Ia sudah lelah untuk berjuang. Tiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru. Ayahnya yang seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.


Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.


Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”. “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si Anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”


Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.


“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”


“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?”


“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”


“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”